Rabu, 9 Juni 2010
Hari ini (Selasa, 8 juni 2010), saya terbangun dengan mata sedikit berat, walaupun saya ingin sekali merebahkan tubuh ini lebih lama, tapi saya melawan itu semua. Sambil merenungkan apa yang saya lakukan untuk hari ini, saya tidak menyadari bahwa ternyata televisi di kamar belum sempat saya matikan sejak tadi malam ( sorry, guys! ). Sambil menerung, saya melihat berita di televisi yang menurut saya sangat menyayat hati. Seorang ibu menyiksa anaknya yang masih balita. Kondisi sang anak sangat mengenaskan. Badannya penuh memar serta tulang di tangannya patah dan diperkirakan telah patah selama 1 bulan. Nafasnya terengah-engah seperti anak tersebut sedang melewati fase yang sangat mengerikan dalam hidupnya. Astagfirullah! Ibu macam apa itu? Saat itu saya hanya bisa menggelengkan kepala dan mengumpat dengan satu kata-yang tidak akan saya sebutkan disini-yang patut menggambarkan ibu tersebut. Saya kemudian beralih ke stasiun televisi yang lain-sudah muak dengan berita itu. Lagi-lagi saya dikejutkan dengan berita yang sama kejamnya! Seorang pemuda nekat membunuh mertuanya lantaran tidak diberi uang untuk pergi hajatan ke rumah tetangganya. Wtf!? Hanya karena sebuah uang, apakah harus sampai ada pertumpahan darah?
Hanya karena uang. Anggapan itu seolah-olah dilegalisasi oleh para anggota DPR yang kabarnya ingin mencanangkan dana(uang) aspirasi yang membebankan APBN negara sejumlah Rp 8,4 T. Di negara asalnya saja, U.S.A, Barrack Obama menilai dana aspirasi-pork barrel sebagai ladang korupsi.
Mean Society.Korupsi.Money Politics
Video porno, penculikan, pembunuhan, gantung diri, gizi buruk dll
Saya pun kembali teringat kemarin, lagi-lagi berita dari sebuah stasiun televisi yang mengulas tentang sebuah ibu yang melahirkan kembar 4 dan terpaksa harus kehilangan ketiga anaknya akibat tidak mempunyai biaya untuk merawat keempat anaknya yang harus di inkubasi (kabar terakhir yang saya dapat, anak terakhirnya masih dalam keadaan yang memprihatinkan).
Apa yang terjadi dengan Indonesiaku, Ya Tuhanku?
Di saat hampir setiap individu bersikap acuh tak acuh terhadap individu lainnya, bahkan darah dagingnya sendiripun mereka acuh tak acuh. Apakah semua ini hanya karena tekanan ekonomi semata? Atau sebenarnya inilah cerminan psikologis masyarakat Indonesia yang selalu berada dalam tekanan perkembangan dunia?
lebih parahnya, semuanya terjadi dalam 1 minggu ini.
mengingat itu semua, kembali memunculkan memori saya kemarin malam mengenai surat yang dikirimkan dari seorang Gaza kepada seorang Indonesia (entah surat itu betul atau tidak). Isinya kurang lebih mengatakan betapa beruntungnya kita mempunyai segala kesempatan yang tidak akan mereka pernah dapatkan sejak perang di jalur Gaza meledak. Ketika mereka susah payah melahirkan seorang anak, kita membuangnya di selokan.
Terkadang ada sedikit perasaan lelah di hati saya ketika saya melihat seluruh kejadian ini dan memikirkan bagaimana solusi yang tepat untuk pemecahannya.Terlalu kompleks. Terlalu banyak dan saya pun muak memikirkan itu semua.
gry.


Ger, yang pasti Indonesia membutuhkan Anda, membutuhkan kita semua.
Jiwa muda yang bersemangat, yang pantang menyerah, yang tulus berjuang.
Merupakan tugas kita untuk mengubahnya, mengganti konten berita yang biasanya berkisar berita kejahatan dan kriminal, menjadi media publik yang dapat menjadi saksi dimana kita berkarya.