NOTICIA

perjalanan panjang menuju tahta impian

Passerà

 

passerà, passerà
se un ragazzo e una chitarra sono li
come te, in città
a guardare questa vita che non va
che ci ammazza d’illusioni
e con l’età delle canzoni

 

saya yang sedang dalam keadaan gundah ini hanya ingin berbagi lagu ini saja di sini.

Sekedar mengingatkan kepada diri saya bahwa setiap permasalahan akan segera berlalu.

Kamu/kalian hanya butuh seseorang dengan gitar (irama)

yang mendendangkan sebuah melodi

dan menyadarkanmu dari dunia yang penuh dengan ilusi.

 

Demokrasi Muda

Tulisan ini saya buat untuk merespon beragam isu yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Harapannya adalah membuka sudut pandang lain atas segala permasalahan yang terjadi dan memberikan petunjuk dalam mencari jalan keluar atas isu yang diperbincangkan.

 

Tulisan ini saya beri judul Demokrasi Muda untuk memberikan pemahaman bahwa Demokrasi yang saat ini kita jalani masih menyesuaikan bentuk dan membutuhkan peran serta masyarakat menuju Demokrasi Mapan di masa yang akan datang.

 

 

Imagesumber: dakwahmedia.com

 

 

Pesta Demokrasi saat ini sedang membayang di pikiran kita. Kurang dari 2 minggu lagi kita sebagai warga negara yang terhormat memilih calon pemimpin terbaik bangsa sesuai dengan visi dan misi yang kita percayai dapat membawa bangsa Indonesia melaju kencang di regional Asia maupun Internasional. Bukan berarti saat ini kita tidak, namun bangsa kita memerlukan alat-alat yang tepat untuk melaju lebih kencang. Kalau diilustrasikan, saat ini kita sedang melaju cepat dengan kecepatan 130 km/jam dengan mobil Toyota Avanza. Ya, kencang memang namun rapuh ketika terjadi goncangan seperti angin, jalan yang tidak rata, dsb. Semua itu akan berakibat fatal apabila fitur keamanan kendaraan tidak dapat mengatasinya. Idealnya apabila berkendara dengan sangat kencang gunakanlah mobil sport seperti BMW, Audi, Mercedes-Benz, dan Ferrari. Rapuhnya perekonomian kita tercermin dalam isu global yang melanda sebagian negara tahun 2008. Krisis finansial tahun 2008 di Amerika Serikat (Lehmann Brothers) hampir saja menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia ke dalam palung kalau tidak ditopang dengan pertumbuhan domestik meskipun pemerintah tetap merugi dengan pemberian bail-out kepada 3 bank pemerintah (Bank Mandiri, Bank BRI, dan Bank BNI) sebesar Rp 150T. Pergerakan indeks saham pun tidak lepas dari gonjang-ganjing isu dunia terutama di Amerika Serikat. Krisis 2008 sempat meruntuhkan IHSG yang sudah menanjak di tahun 2007. Bahkan, isu pemberian stimulus yang notabene-nya terjadi di Amerika Serikat sempat menghantui IHSG yang turun sampai ke level 3.500 dari level 5.000.

Saya banyak sekali mendengar di dalam seminar maupun kelas bahwa yang dapat menopang perkenomian Indonesia di kala krisis ataupun isu global adalah sektor usaha kecil dan menengah salah satunya adalah industri ekonomi kreatif. Jadi menurut saya “pemimpin selanjutnya harus dapat menggairahkan sektor UMKM secara merata agar produksi domestik tidak kalah dengan impor”

Berbicara mengenai demokrasi tidak lepas dari keseimbangan percepatan partisipan. Permasalahan utama yang saat ini dihadapi adalah percepatan sistem pemerintahan demokrasi yang tidak diimbangi dengan percepatan pemahaman masyarakat atas peran rakyat dalam sistem pemerintahan yang berdemokrasi. Secara logika, sistem pemerintahan yang berdemokrasi membutuhkan rakyat yang terdidik. Mengapa? Karena penentuan arah ke mana pembangunan negara akan berjalan ditentukan sendiri oleh rakyatnya secara konsensus (entah apakah itu melalui pemilu ataupun musyawarah mufakat). Rakyat diberikan kebebasan untuk mengkritik dan menyanjung, menghujat atau memuja, bahkan melakukan penggulingan kekuasaan (melalui Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi).

Namun yang terjadi belakangan ini adalah kritik dan sanjungan yang tidak pada tempatnya. Salah satunya yang sedang hangat didiskusikan adalah berunjuk rasa (mengkritik dan menghujat) menyerang pemerintah dan meminta agar kasus TKW (Satinah, dkk.) cepat diselesaikan bahkan calon legislatif pun turut serta meramaikan. Menurut saya ada yang salah dalam tuntutan ini yakni pada penyerangan pemerintah tidak pada posisi yang tepat. Sebaiknya kita pelajari duduk permasalahannya dan mencari solusi yang tepat secara jangka panjang bukan hanya pada individu. Saya membaca sebuah artikel di sebuah forum yang patut untuk dijadikan referensi, berikut linknya [Ada Apa dengan TKW di Arab… Jangan Hanya Membaca Berita Mereka Diperkosa]

Dari artikel tersebut seharusnya kita sadar bukan hanya kali ini, namun beberapa tahun belakangan bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan adalah pendidikan (bahasa, kultur, dan tata krama). Dengan pendidikan yang layak tentu semua hal seperti miskomunikasi, memasak, dsb. tidak akan terjadi. Jadi seharusnya yang dituntut oleh masyarakat adalah “Berunjuk rasa menyerang pemerintah untuk memberikan pendidikan yang layak bagi TKI sebelum diberangkatkan”.

Maka dari itu kalau ada caleg/capres apabila ditanya pendapatnya dan menjawab langsung menyalahkan pemerintah dan meminta segera lunasi uang darah, tidak akan saya pilih beliau untuk duduk di kursi legislatif.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah layak itu seperti apa? Di sinilah peran lembaga LSM untuk berkoordinasi dengan pemerintah menyampaikan positif dan negatif bekerja di negara tujuan sehingga dapat diformulasikan standar operasional pendidikan maupun pengawasan. Misalnya TKI wajib lapor 2 bulan sekali atau sampel kunjungan pihak berwenang.

Pesan saya untuk pemimpin demokrasi muda selanjutnya, semoga anda dapat mendorong warga negara untuk lebih mengerti dan peduli tentang arti pendidikan mulai dari membaca karena hanya dengan membacalah kita bisa berkreasi dan berpikir kritis.

 

 

 

 

referensi:

http://www.kaskus.co.id/thread/53355bb6bccb17a07f8b48ea/sharing-ada-apa-dengan-tkw-di-arab-jangan-hanya-membaca-berita-mereka-diperkosa/1

 

Good Cop Bad Cop

sumber: thisishistorictimes.comsumber: thisishistorictimes.com

Seringkah anda melihat serial televisi fiksi dunia penegakan hukum seperti CSI New York, CSI Miami, Law and Order (semuanya adalah serial televisi dari Amerika Serikat)? Mayoritas ceritanya adalah mengisahkan bagaimana sulitnya para tim penegak hukum untuk mencari kebenaran dalam sebuah kasus (entah itu penculikan, pembunuhan, penggelapan, dsb.). Dalam usahanya mencari kebenaran kasus berdasarkan bukti yang diperoleh, mereka selalu dihadapkan dengan yang namanya saksi. Mereka akan mewawancarai beberapa saksi kemudian mencocokannya sehingga didapat sebuah kesimpulan kasus. Namun, tak jarang saksi/terdakwa* menutup mulutnya rapat-rapat (rasa takut, keengganan memberikan informasi, miranda rights**, dsb.) sehingga menyulitkan para penegak hukum untuk melihat kebenaran.

Salah satu strategi wawancara yang sering digunakan untuk menghadapi saksi semacam ini adalah dengan strategi Good Cop Bad Cop. Strategi ini melibatkan 2 pewawancara dengan sifat dan kepribadian yang bertolak belakang serta suguhan makanan :p. Tentu saja itu bukan sifat mereka yang sebenarnya karena ini hanyalah sebuah strategi drama. Bad Cop bertugas untuk mengeluarkan rasa takut dari terdakwa dan menjadikan Sang Bad Cop ini sebagai musuh utama terdakwa. Good Cop bertugas untuk menurunkan tensi terdakwa dan berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai ‘teman’ terdakwa. Mudahnya, kalau dulu takut ke sekolah kita selalu deketan terus sama Ibu kan, berangkat diantar pulang dijemput. Mayoritas, strategi ini dinilai berhasil untuk mengungkap informasi yang sulit diungkapkan dari terdakwa.

Ternyata strategi ini tampaknya bisa dipakai dalam dunia politik, seperti yang ditunjukkan oleh pasangan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahya (Ahok). Sering kita mendengar ketika ada rencana pemerintah untuk melakukan relokasi pedagang dan lingkungan kumuh selalu diikuti dengan protes warga yang terkadang berlebihan. Misalnya, baru-baru ini pedagang kaki lima yang berkeliaran di sekitar Tanah Abang direlokasi ke lahan yang baru dan memicu kekecewaan sejumlah warga. Nah, di sinilah peran Basuki Tjahya sebagai Bad Cop yang memiliki citra yang sangat keras, tidak pandang bulu, dan pedas (mudah melontarkan sejumlah kata pedas). Apa akibatnya? Tentu saja sang target akan langsung mengalihkan perhatiannya kepada Sang Bad Cop. Hujatan dan hinaan terkadang dilempar begitu saja kepada Ahok. Dalam berita terakhir tanggal 15/07, salah seorang pedagang menyebut Ahok layaknya seorang firaun.

Lantas di mana Jokowi (Joko Widodo)? Jokowi yang berperan sebagai Good Cop bersikap tenang, santai, dan memperbanyak aksi blusukan yang sangat digemari oleh warga Jakarta (dan warga Solo ketika masih menjabat Walikota Solo). Beliau melakukan pendekatan secara tepat dan halus untuk meredam emosi warga sehingga warga percaya penuh terhadap segala kebijakan Jokowi (dan Basuki). Hasilnya? Meskipun menemui banyak hambatan, toh kebijakannya masih terus berjalan dan siap direalisasi.

Imagesumber: allpostersimages.com

Apa yang menentukan keberhasilan strategi ini? Kuncinya adalah kerjasama. Untuk melakukan strategi ini dibutuhkan kerjasama dan pengertian di atas rata-rata karena siapa memerankan apa adalah hal penting untuk mensukseskan ini. Kalau tidak tahu siapa memerankan apa, Sang Good Cop bisa saja terbawa emosi dan menyebrang ke sisi Bad Cop yang melahirkan sistem otoriter, begitupula sebaliknya yang menjadikan pemerintah terkesan lembek dan tidak tegas. Saya menduga inilah yang terjadi di beberapa institusi penegakan hukum ketika melakukan wawancara kepada tersangka, kerja sama dan pengertian tidak diterapkan penuh sehingga banyak terjadi pemukulan yang berakibat luka fatal kepada tersangka (dalam beberapa kasus ternyata korban salah tangkap)

Semua itu adalah dugaan saya, apakah Jokowi dan Basuki menyadarinya atau tidak hanya mereka yang paham karena strategi hanyalah milik mereka dan saya cukup menganalisa dan mengawasi saja.

Grazie per Tutti! 😀

 *terduga tersangka, semua saksi dipandang tidak bersalah sebelum diputuskan pengadilan

**hak untuk tetap diam atas tuduhan dan mendapatkan pengacara

Politikus atau Politisi ?

Image

sumber:google/detydiana

“…begini mbak ya, menurut saya di Indonesia ini ada 2 macem anggota DPR, politikus dan politisi. Politikus itu kerjanya cuma makan uang rakyat, sedangkan politisi adalah yang membela kepentingan rakyat…”

Itulah sepenggal perbincangan seorang penelpon yang saya dengar dari program debat di salah satu stasiun televisi swasta. Menarik bagi saya karena ada seseorang yang memaknai politikus dan politisi adalah dua hal yang berbeda padahal selama ini saya memahami dua kata tersebut memiliki makna yang sama, yakni seorang yang ahli dalam politik, kenegaraan atau seorang yang berkecimpung dalam bidang politik. Pertanyaan langsung muncul dalam benak, saya atau penelpon tersebut yang benar? Lalu mengapa pembelahan kata seperti “politikus” dan “politisi” bisa terjadi?

Cara yang paling mudah untuk mengidentifikasinya adalah dengan melihat ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut KBBI, kata yang tepat untuk mewakilinya adalah “politikus” (meskipun kata “politisi” juga ada di KBBI, definisi “politisi” harus merujuk kepada “politikus” maka dalam hal ini kata “politikus” memiliki formalitas yang lebih tinggi). Kata “politikus” juga bisa dikaitkan dengan penyerapan dari bahasa asing yakni politician (Inggris). Dalam beberapa penyerapan kata dari Bahasa Inggris, akhiran –cian dapat diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi -kus, seperti halnya dalam kata musician yang menjadi musikus. Dalam Bahasa Belanda, ahli politik sepadan dengan kata politicus begitu pula dengan musicus (politicianpoliticus-politikus; musicianmusicus-musikus).

Lalu mengapa kata “politisi” muncul? Mudah saja, karena lidah orang Indonesia tidak terbiasa dengan hal yang rumit dan sulit yang ditambah dengan gencarnya aliran Bahasa Inggris di Indonesia, kemungkinan besar kata politicus ditinggalkan sehingga politician menjadi lebih populer di lidah Indonesia. Lebih jauh lagi, pelafalan dari kata politician (pɒlɪˈtɪʃən) yang dilafalkan nyaris -si (seperti dalam nutrition, acclamation, condition, extradition semuanya diakhir kata diserap menjadi -si) sepertinya menjadi pengukuh utama munculnya kata politisi.

Ternyata, apa yang terjadi di Indonesia adalah banyak sekali ahli politik jadi-jadian yang duduk santai di parlemen akibatnya dunia politik menjadi carut marut, tidak tahu siapa membela siapa dan siapa yang mendukung mana. Dari apa yang saya saksikan dan dengarkan setiap hari, tampaknya fakta ini lambat laun menjadi penyebab pembelahan dan pergeseran makna kata, yakni bermakna positif dan negatif. Kata politikus yang dinilai sebagai makna negatif dugaan saya adalah runtutan ragam kata berakhiran -kus yang umumnya adalah negatif, misalnya ti-kus, ra-kus, ka-kus, dsb. Ada juga yang menyebut bahwa frase poli-tikus berarti banyak tikus yang mencerminkan sifat sesungguhnya dari ahli politik jadi-jadian tersebut. Karena inilah saya menduga kata “politisi” nilainya menjadi lebih tinggi dan terhormat daripada “politikus” padahal kebenaran memihak kepada “politikus”.

Bahasa yang baik adalah bahasa yang dipakai dengan benar dan konsisten. Bahasa Indonesia sebenarnya sudah mempersiapkan padanan kata yang tepat untuk seorang ahli jadi-jadian-serigala berbulu domba-yakni kata oknum. Misalnya, Polisi adalah seorang ahli penegakan keamanan sedangkan bentuk jadi-jadiannya adalah oknum polisi begitupula dengan oknum pengacara, oknum pedagang, oknum petugas, dsb. Maka sebenarnya, secara formal bahasa seorang yang ahli atau yang berkecimpung dalam politik disebut politikus, sedangkan yang kerjanya hanya mengaku politikus disebut oknum politikus.

Namun, penggunaan kata oknum politikus terganjal efisiensi bahasa, karena tujuan utama bahasa mengefisiensikan komunikasi antar dua atau lebih individu sehingga frase “oknum politikus” jarang sekali digunakan. Menurut saya, penggunaan kata politikus dan politisi sah-sah saja untuk digunakan asalkan politikus tetap dihormati sebagai kata yang tepat untuk seseorang dengan kemampuan lebih dalam berpolitik dengan makna yang positif, untuk yang jadi-jadiannya silakan cari sendiri ya 🙂

Go on get cooking!

Hello 🙂

Strike again with a new post ! ha!

Beberapa bulan yang lalu sampai pada saat ini, banyak hal yang terjadi di dapur rumah saya. Bukan merujuk kepada gas elpiji yang meledak atau dapur ngebul yang penuh dengan asap. Yaa memang sebagian berasap, tapi tidak berasap layaknya tragedi kebakaran yang seringkali terjadi di musim panas dan tiba-tiba saja mereda saat musim hujan. Namun, asapnya ini berasal dari beberapa hasil kreasi (percobaan) saya di area yang jarang sekali dijangkau oleh bapak-bapak. Keputusan untuk mencoba membuat masakan sendiri ini sebenarnya datang dari kegabutan saya setelah lulus dan menunggu untuk masuk program profesi akuntansi Februari mendatang. So, apa salahnya untuk mencoba sesuatu yang bakal berguna di masa depan? Dan untuk panduannya, pilihan saya jatuh kepada Gordon Ramsey (Ultimate Cookery Course dan Cookalong Live UK)

Beberapa percobaan masakan yang saya coba untuk membuatnya sendiri sebenarnya sudah tercantum pada postingan sebelumnya (tiramisu). Namun, saya merasa masih merasa tidak puas dan ingin mencoba membuat masakan yang lain lagi. Nah, ada 3 makanan/minuman yang sudah saya interpretasikan dan it’s super easy, simple, and indulgent recipies. Well, here they are:

     

super simple pancake with honey

untuk adonannya cukup aduk tepung terigu 250gr dengan 1 sendok teh baking powder, 2 spoonfull of caster sugar, lalu masukkan telur dan susu secara perlahan sampai membentuk adonan. Apabila adonan terlalu kental, bisa ditambahkan air. Panganan ini cocok dimakan sebagai brunch—a gap between breakfast and lunchbagi pembaca yang malas sarapan.

IMG00111-20130103-1220

 simple pancake with honey

a classic white sauce with cheese

untuk yang satu ini sebenarnya adalah semacam saus klasik berwarna putih yang biasanya disajikan bersama dengan pasta. Rasa sausnya hampir mirip dengan saus carbonara (atau memang itu namanya?). Bahannya  adalah butter 25 gr, tepung terigu 25 gr, susu 300ml, garam, lada hitam, dan bubuk biji pala, serta keju. Sangat cocok untuk pasta, cukup memasak dengan jumlah yang cukup banyak dan simpan di lemari pendingin. And for the next time you cook pasta, all you have to do is just prepare the pasta and topping. Really simple.

IMG00118-20130111-2211

IMG00120-20130111-2212

classic white sauce with cheese

spaghetti with chicken and classic white sauce

Panganan yang satu ini merupakan terusan dari masakan nomor 2 diatas, hanya ditambah dengan ayam yang direbus matang dan rebusan pasta (spaghetti). Ayam bisa diganti dengan apa saja yang mengandung protein seperti sayap ayam, bebek, dkk.

IMG00124-20130115-1207

IMG00125-20130115-1208

spaghetti with chicken and classic white sauce

Well, that’s all for today’s post and I hope you enjoy your reading 😀

Go on get cooking!

Adios!